Aksame Bewacan Adat Sorong Serah Aji Krame

Bewacan adalah bentuk kegiatan yang dilakukan oleh pembayun dalam suatu perkawinan ketika berlangsung adat sorong serah adat Sasak. Bewacan biasa terjadi apabila kedua belah pihak antara keluarga mempelai laki dengan mempelai wanita sudah ada perjanjian untuk bewacan. Jadi dari pihak laki menyiapkan pembayun dan demikian pula dari pihak perempuan harus menyiapkan pembayun.

Pada acara bewacan ada beberapa hal yang harus diketahui oleh setiap orang Sasak yakni sebagai berikut.

𝙋𝙞s𝙤𝙡𝙤

Pisolo adalah utusan Pembayun Penyorong (dari pihak mempelai laki) yang ditugaskan untuk menanyakan kesiapan olem-oleman, pesila’an, yang empunya gawe (pihak mempelai perempuan), apakah sudah siap untuk menerima kedatangan Pembayun Penyorong memasuki lace-lace adat untuk menyerahkan Aji Krame Suci Lambang Adat . Pisolo hendaknya berpakaian adat rapi dan harus menguasai bahasa yang dipergunakan dalam menyolo.

Banyak Pisolo disesuaikan dengan aji karma adat yang akan diserahkan, yakni :

• Ajikrama 33 : penyolonya 2 orang, maksimal 3 orang

• Ajikrama 66 : penyolonya 3 orang maksimal 5 orang

• Ajikrama 100 : penyolonya 5 orang maksimal tidak terbatas.

𝙋𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙖𝙣𝙜

Pengurang adalah utusan Pembayun Penampi (pihak perempuan) yang ditugaskan untuk mempersilakan Pembayun Penyorong dan pengiringnya (penyorong) untuk masuk ke lace-lace adat. (Istilah Pengurang ini dipakai khusus di wilayah Pujut). Pengurang setelah mempersilahkan Pembayun Penyorong, harus bersama-sama memasuki lace-lace adat dengan pembayun penyorong.

𝘼𝙠𝙨𝙖𝙢𝙚 (𝙪𝙘𝙖𝙥-𝙪𝙘𝙖𝙥𝙖𝙣)

𝙋𝙞𝙨𝙤𝙡𝙤 :

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Singgih sewauh dewek titiang puniki hangangsawung salam seugami sne wawuh tinujon ring wong Muslimin lan wong Muslimat. Sane malingih, malungguh ring penantaran jembar puniki. Purun malih dewek titiang puniki hangangsung salam panembrame ring sanehan datu, raden, menak, buling, perwangse, triwangse- wangsa same pare kiyaim lebe, penghulu pendite, hatib, bilal, merebot same. Dane haji pare haji, pare santri, santri kabeh, permance-mance negare, malinggih malungguh, ring penayuhan agung puniki. Sawireh onteng pribadi titiang puniki, jage need nurgehe make miwah kang nyaranging titiang puniki ring kiwe, ring tengen, muah ring untat titiang puniki, senamian jage titiang puniki ngelungsur penurgahe, moga mogi ketampi mekadi atur dewek titiang puniki sane wauh -daweg.

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙮𝙖 :

Saya pribadi menghaturkan salam hormat yang setulus-tulusnya kepada seluruh kaum Muslimin dan Muslimat yang hadir dan duduk bersama di pelataran yang luas ini.

Selanjutnya, saya juga menghaturkan salam penghormatan kepada seluruh datu, raden, menak, buling, perwangse, triwangsa, dan seluruh wangsa tanpa terkecuali. Demikian pula kepada para kiai, lebe, penghulu, pendeta, khatib, bilal, merebot, serta para haji dan hajjah, para santri dan seluruh santri, juga kepada seluruh masyarakat dari berbagai kalangan yang hadir dan berkumpul di tempat yang mulia ini.

Karena saya pribadi memiliki banyak kekurangan dan kekhilafan, baik terhadap orang-orang yang berada di sebelah kiri, sebelah kanan, maupun di belakang saya, maka pada kesempatan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga permohonan maaf saya ini dapat diterima dengan lapang dada. Demikianlah yang dapat saya sampaikan.

𝙅𝙖𝙬𝙖𝙗𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙖𝙮𝙪𝙣 𝙋𝙚𝙣𝙖𝙢𝙥𝙞 :

Singih dan seterusnya-

𝗔𝗸𝘀𝗮𝗺𝗲 𝟭

𝙋𝙚𝙢𝙗𝙖𝙮𝙪𝙣 𝙋𝙚𝙣𝙮𝙤𝙧𝙤𝙣𝙜

Petama-tama ngelungsur

Assalamu Alaikum Warohmatullohi wa Barokatuh

Singgih jero pengarse’ng wecane minangke kebaos pembayun penampi, tur malih ye’n menawi wenten kepale dese memangke kebaos sesepuh Adat. Pare pengelingsir-pengelingsir dise, datu, raden, me’nak baling perwangse, triwangse, wangse-wangse same’, kiyai lebe’, penghulu pandite, khatib bilal merbot same’, dane’ haji para haji, para santri-santri kabe’h, permance-mance Negara, malinggih-mlungguh hanaring penayuban Agung puniki, sewauh ketampi pengangsung salam seagame kang tinujon ring wong muslimin, wong muslimat sane’magenah ring penegarayan puniki, purun malih onteng dewek titiang puniki hangangsung salam penembrame sedulur mekadi adat sasak kang utame, sewire’h de’we’k titiang puniki jage’ nedenurgehe, make miwah kang nyarengin de’we’k titiang puniki, ring kiwo, ring tengen, make ring untat de’we’k titiang puniki, senami’an jage’ titiang puniki ngelungsur penurgahe, moga magi ketampi mekadi atur de’we’k titiang puniki sanek wauh. -d a w e g.

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙮𝙖 :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang pertama, izinkan saya memohon maaf.

Yang saya hormati juru bicara sekaligus pembawa acara penyambutan. Selanjutnya, apabila hadir Kepala Desa yang juga selaku sesepuh adat. Para pengelingsir (tetua), datu, raden, menak, baling, perwangse, triwangse, seluruh wangsa, para kiai, lebe, penghulu, pendeta, khatib, bilal, dan merbot. Para haji dan hajjah, seluruh santri, serta seluruh masyarakat dari berbagai kalangan yang hadir dan duduk bersama dalam pertemuan agung ini.

Saya menghaturkan salam seagama kepada seluruh kaum Muslimin dan Muslimat yang berada di tempat ini. Selanjutnya, saya juga menghaturkan salam hormat kepada seluruh saudara-saudara, terutama masyarakat Adat Sasak.

Karena saya pribadi menyadari masih banyak kekurangan, kesalahan, dan kekhilafan, baik kepada mereka yang berada di sebelah kiri, sebelah kanan, maupun di belakang saya, maka pada kesempatan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga permohonan maaf saya dapat diterima dengan lapang dada.

Demikian yang dapat saya sampaikan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

𝙅𝙖𝙬𝙖𝙗𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙖𝙮𝙪𝙣 𝙋𝙚𝙣𝙖𝙢𝙥𝙞 :

Siggih jero pembayun pengandike-pengandike regehingandike sane’ wauh kodal ,kalintang mabecik,kalintang mabagus patut kaliwating patut,pantes kaliwating pantes,sedidih tenane engge’ne sisip,sekecap tanane engge’ne siwah.

Kaping utame: salam seagame sampun kesauran paksi.-kaping kalih salam panembrame utawi salam adat sedulur mekadi adat istiadat sasak kang pinunju sampun keluargehe utawi sampun titiang tampi semalih huge kang hangiring nyarengin ragehingandike sampun ketampi tuting ring kiwe,ring tangen, make miwah ring pungkur ragehingandike. Hanging mangkin minangke dados penuwun de’we’k titiang puniki ring regehinangandike, moga-mogi regehingandike swe’ca/kaide’n kodaling pengartike, minangke penge’garing serire sanehan olem-oleman, pesila’an,make miwah undangan same’, turmalih sake’hingkang hanenonton ring upecare adat sasak kang utame puniki.-d a w e g.

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙮𝙖 :

Yang saya hormati Bapak Pembayun. Tutur kata dan penyampaian yang telah disampaikan tadi sungguh sangat baik, sangat indah, sangat tepat, sangat pantas, tanpa ada sedikit pun kekeliruan maupun kesalahan dalam setiap ucapannya.

Pertama, salam seagama telah disampaikan dengan sempurna.

Kedua, salam penghormatan atau salam adat kepada seluruh saudara sesuai adat istiadat Sasak juga telah disampaikan, dan telah saya terima dengan baik.

Demikian pula segala hal yang menyertai penyampaian tersebut telah diterima oleh semua pihak, baik yang berada di sebelah kiri, sebelah kanan, maupun di belakang hadirin.

Kini, sebagai permohonan saya kepada Bapak Pembayun, semoga Bapak berkenan memberikan penjelasan atau makna dari rangkaian kata-kata yang telah disampaikan itu, sebagai penyejuk hati dan penambah pemahaman bagi seluruh tamu yang hadir, para undangan, serta semua yang menyaksikan pelaksanaan upacara adat Sasak yang mulia ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan.

Catatan : Dalam tradisi adat Sasak, bagian ini merupakan bentuk penghormatan kepada Pembayun (juru bicara adat), sekaligus permohonan agar beliau melanjutkan prosesi dengan memberikan penjelasan atau makna dari rangkaian tutur adat yang telah disampaikan. 

𝙅𝙖𝙬𝙖𝙗𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙖𝙮𝙪𝙣 𝙋𝙚𝙣𝙮𝙤𝙧𝙤𝙣𝙜

Allhamdulillah wasyukurillah-ye’n sampun ketanpi salam panembrame utawi salam adat sedulur mekadi adapt sasak kang utame puniki.semalih ye’n keido’n utawi swe’ce ragehingandike hamirenge atur titiang puniki . minangka tembang penge’garing sarire,salam mukadimah ring upacare adapt puniki.Hanging sedurung titiang puniki ngaturang penge’ garing serire puniki ,nuhun agung-agung pengampure ye’n wenten atur titiang kirang sebade ring kahayun ragehingandike same’. -nede agung singampure.

𝘼𝙧𝙩𝙞n𝙮𝙖 :

Alhamdulillah wa syukurillah. Apabila salam penghormatan atau salam adat kepada seluruh saudara menurut adat Sasak yang utama ini telah diterima, dan apabila Bapak berkenan mendengarkan apa yang akan saya sampaikan sebagai untaian kata penyejuk hati sekaligus mukadimah dalam upacara adat ini.

Namun, sebelum saya menyampaikan untaian penyejuk hati tersebut, terlebih dahulu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata atau penyampaian saya yang kurang berkenan di hati Bapak dan seluruh hadirin.

Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Catatan: Terjemahan ini disusun secara kontekstual sesuai fungsi teks dalam prosesi adat Sasak, yaitu sebagai pembuka (mukadimah) yang diawali dengan ucapan syukur, permohonan izin untuk menyampaikan wejangan atau petuah, serta diakhiri dengan permohonan maaf sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh hadirin. (KK) 

Lebih baru Lebih lama