Jangan Asal Gunakan Nebulizer, Dokter Ingatkan Risiko Efek Samping Jika Salah Pemakaian

NTBVision.com - Nebulizer merupakan alat terapi inhalasi yang berfungsi menghantarkan obat langsung ke saluran pernapasan. Meski bermanfaat dalam penanganan sejumlah penyakit, penggunaannya tidak boleh dilakukan tanpa petunjuk tenaga medis karena berpotensi menimbulkan efek samping apabila digunakan secara keliru.

Dokter spesialis anak konsultan respirologi, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan bahwa penggunaan nebulizer yang tidak tepat dapat menyebabkan sisa partikel obat menyebar ke area tubuh lain. Kondisi tersebut dapat memicu efek samping yang berbeda-beda, bergantung pada jenis obat yang digunakan.

Ia mencontohkan, obat inhalasi yang mengandung steroid berisiko menimbulkan gangguan pada mata apabila residunya terus-menerus mengenai mata dalam jangka panjang.

"Misalnya, salah satunya obat yang mengandung steroid, ketika kena mata dan dalam jangka waktu yang lama hati-hati bisa jadi katarak," ujar dr. Wahyuni, dikutip dari ANTARA, Kamis (2/7/2026).

Selain steroid, obat dari golongan antikolinergik juga memerlukan perhatian khusus. Menurutnya, paparan obat tersebut ke mata dapat meningkatkan tekanan bola mata (tekanan intraokular) yang jika berlangsung lama berpotensi memicu glaukoma.

Karena itu, ia menyarankan agar terapi nebulisasi dilakukan sesuai prosedur menggunakan alat yang berkualitas baik sehingga penyebaran residu obat dapat diminimalkan.

Nebulisasi merupakan metode pemberian obat dengan mengubah obat cair menjadi partikel aerosol yang kemudian dihirup melalui nebulizer. Cara ini memungkinkan obat bekerja langsung pada saluran pernapasan sehingga lebih efektif untuk menangani penyakit tertentu.

Namun demikian, dr. Wahyuni menegaskan bahwa nebulizer bukanlah terapi yang dapat digunakan untuk semua jenis gangguan pernapasan. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap alat tersebut bisa dipakai setiap kali mengalami batuk atau sesak napas, padahal penggunaannya memiliki indikasi medis yang jelas.

Terapi inhalasi umumnya diberikan kepada pasien asma. Selain itu, nebulizer juga dapat digunakan pada beberapa kondisi lain seperti croup (laringitis) maupun bronkiolitis yang sering disertai bunyi napas mengi atau "ngik-ngik".

"Pada penyakit infeksi seperti croup laringitis dan bronkiolitis yang menyebabkan bunyi napas ngik-ngik, terapi inhalasi dapat digunakan karena obat yang diberikan memang bekerja pada sistem pernapasan untuk penyakit tertentu," jelasnya.

Di akhir keterangannya, dr. Wahyuni mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan nebulizer sebagai pengobatan mandiri setiap kali mengalami keluhan pada saluran pernapasan.

Apabila muncul gejala seperti sesak napas, napas berbunyi, atau keluhan lain yang mengganggu, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter. Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang diberikan akan lebih sesuai sehingga manfaat nebulizer dapat diperoleh secara optimal sekaligus meminimalkan risiko efek samping akibat penggunaan yang tidak tepat.

Lebih baru Lebih lama