Desa Beleka tercatat dalam platform resmi Jejaring Desa Wisata (JADESTA) Kementerian Pariwisata sebagai Desa Wisata Beleka Sentra Rotan & Ketak/Atte. Dalam profil tersebut disebutkan bahwa produk kerajinan rotan dan ketak/atte dari desa ini telah dikirim ke luar negeri sejak sekitar tahun 1980-an.
Warisan Kerajinan yang Bertahan Puluhan Tahun
Kerajinan rotan dan ketak/atte bukan sekadar aktivitas ekonomi masyarakat Desa Beleke. Kerajinan tersebut merupakan bagian dari warisan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sejumlah penelitian mengenai kerajinan Beleka mencatat bahwa perkembangan kerajinan rotan mulai terlihat sekitar tahun 1980-an dan terus berkembang sebagai industri rumah tangga masyarakat. Bahkan, keterampilan mengolah rotan dan ketak telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Proses pembuatannya masih banyak mengandalkan keterampilan tangan. Bahan rotan dan ketak diolah, dianyam, dibentuk, kemudian melalui proses penyelesaian atau finishing. Ketelitian, kesabaran, dan keterampilan menjadi modal utama para pengrajin dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual.
Keunikan inilah yang membuat kerajinan Beleke memiliki daya tarik tersendiri. Setiap produk tidak hanya membawa fungsi sebagai barang kebutuhan atau dekorasi, tetapi juga membawa cerita tentang keterampilan dan budaya masyarakat Lombok.
Dari Rumah Warga Menuju Pasar Dunia
Salah satu kekuatan utama industri kerajinan di Beleke adalah keterlibatan masyarakat secara langsung. Produksi kerajinan banyak dilakukan sebagai industri rumahan sehingga rumah-rumah warga dapat menjadi ruang produksi sekaligus tempat berlangsungnya proses pewarisan keterampilan.
Dokumen Pemerintah Provinsi NTB menyebutkan bahwa masyarakat Desa Beleke dikenal sebagai pengrajin rotan dan ketak/atte, sementara pemasaran produk selama ini banyak dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Sentra kerajinan juga masih banyak berada di rumah-rumah penduduk.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerajinan rotan dan ketak bukan hanya produk wisata, tetapi telah menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat. Dengan demikian, keberadaan sentra kerajinan memiliki posisi strategis dalam membuka lapangan pekerjaan, khususnya bagi masyarakat di tingkat rumah tangga.
Kajian ekonomi mengenai industri rotan dan ketak di Beleka juga menunjukkan besarnya jumlah masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kerajinan. Data tahun 2022 yang dikutip dalam penelitian tersebut mencatat 5.479 pengrajin yang tersebar di wilayah Beleka Inti, Beleka Labe Sane, dan Beleka Daye. Beleka Daye tercatat memiliki jumlah pengrajin terbesar dalam pembagian wilayah tersebut.
Beleke Daye dan Identitas Desa Baru
Dalam perkembangannya, wilayah Beleka mengalami pemekaran. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Tengah Nomor 15 Tahun 2022 menetapkan pembentukan Desa Beleke Daye sebagai pemekaran dari Desa Beleka. Peraturan tersebut ditetapkan pada 26 September 2022.
Secara administratif, Desa Beleke Daye memiliki luas sekitar 345,96 hektare dengan jumlah penduduk yang tercantum dalam perda sebanyak 2.812 jiwa dan terdiri atas 10 dusun.
Pemekaran wilayah ini tidak menghilangkan akar budaya masyarakatnya. Justru, identitas sebagai bagian dari kawasan sentra kerajinan rotan dan ketak dapat menjadi modal penting bagi Desa Beleke Daye untuk membangun identitas ekonomi dan pariwisata tersendiri.
Ketak dan Rotan sebagai Kekuatan Ekonomi Kreatif
Di era ekonomi kreatif, kerajinan tradisional memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi. Rotan dan ketak dapat diolah menjadi berbagai macam produk, mulai dari keranjang, tas, tempat penyimpanan, perabot rumah tangga, hingga berbagai produk dekorasi dan suvenir.
Nilai sebuah produk kerajinan tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya, tetapi juga oleh desain, kualitas anyaman, kreativitas, cerita budaya, serta kemampuan pemasaran.
Karena itu, tantangan Desa Beleke Daye ke depan bukan sekadar mempertahankan keterampilan menganyam, tetapi bagaimana menjadikan keterampilan tersebut sebagai ekosistem ekonomi kreatif yang kuat.
Digitalisasi pemasaran, pengembangan desain, peningkatan kualitas kemasan, fotografi produk, pemasaran melalui marketplace, media sosial, hingga kerja sama dengan pelaku pariwisata dapat menjadi strategi untuk memperluas pasar.
Menjadikan Kerajinan sebagai Pengalaman Wisata
Potensi Desa Beleke Daye sebenarnya tidak berhenti pada produk kerajinan. Wisatawan dapat diarahkan untuk melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan kerajinan dari bahan mentah hingga menjadi produk siap jual.
Konsep seperti wisata edukasi kerajinan dapat dikembangkan. Wisatawan tidak hanya membeli produk, tetapi juga dapat belajar menganyam, mengenal bahan baku, berdialog dengan pengrajin, dan membawa pulang produk yang dibuat atau dipilih sendiri.
Model tersebut akan memberikan pengalaman yang lebih mendalam sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk.
Desa Wisata Beleka sendiri telah tercatat dalam JADESTA dengan kategori Berkembang. Profil resmi tersebut juga mencantumkan sejumlah fasilitas seperti kios suvenir, kuliner, balai pertemuan, mushala, area foto, tempat makan, dan Wi-Fi.
Tantangan yang Masih Harus Dijawab
Potensi besar tidak berarti tanpa persoalan. Pengembangan sentra kerajinan masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain pemasaran, fasilitas sentra, infrastruktur, penguatan kelembagaan, serta perlindungan kekayaan intelektual.
Pemerintah Provinsi NTB dalam kunjungan ke Desa Beleke pada 2024 juga mencatat persoalan terkait kondisi tempat pemasaran, sarana dan prasarana pasar, serta kebutuhan pendampingan untuk promosi dan penguatan perlindungan kekayaan intelektual produk kerajinan.
Persoalan tersebut menjadi penting karena produk yang telah dikenal hingga pasar luar negeri membutuhkan identitas dan perlindungan yang kuat. Produk khas desa harus memiliki cerita, merek, desain, serta identitas geografis yang mampu membedakannya dari produk sejenis dari daerah lain.
Menjaga Tradisi, Membuka Masa Depan
Desa Beleke Daye memiliki modal yang tidak semua desa miliki: tradisi yang hidup, keterampilan masyarakat, produk yang khas, dan sejarah panjang perdagangan kerajinan.
Kerajinan rotan dan ketak/atte yang dahulu dikerjakan sebagai keterampilan turun-temurun kini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi industri kreatif berbasis desa dan destinasi wisata edukasi.
Ke depan, pengembangan Desa Beleke Daye idealnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan pengrajin. Pemerintah desa, pemerintah daerah, pengrajin, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas kreatif dapat membangun kolaborasi untuk memperkuat desain, pemasaran, kelembagaan, infrastruktur, hingga perlindungan kekayaan intelektual.
Sebab, ketika wisatawan membeli sebuah kerajinan dari Beleke Daye, yang mereka bawa pulang bukan sekadar tas, keranjang, atau benda anyaman.
Mereka membawa sepotong cerita tentang Lombok, tentang ketekunan para pengrajin, dan tentang warisan budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Dari tangan-tangan pengrajin di rumah-rumah warga, rotan dan ketak/atte menjelma menjadi produk yang mampu melintasi batas wilayah bahkan negara.
Beleke Daye bukan hanya memiliki kerajinan. Beleke Daye memiliki identitas, sejarah, dan potensi untuk menjadi salah satu ikon ekonomi kreatif Lombok Tengah. (Alfi H.)


