![]() |
| Sumber: Al Jazeera |
Khamenei diketahui tewas dalam serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026, setelah memimpin Republik Islam Iran selama hampir 37 tahun.
Sejak hari pertama prosesi, ribuan warga memadati kompleks keagamaan Grand Mosalla di Teheran. Para pelayat mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka, sementara bendera merah tampak berkibar di berbagai sudut lokasi pemakaman.
Makna Bendera Merah
Mengutip Al Jazeera, dalam tradisi Islam Syiah, bendera merah merupakan lambang kemartiran sekaligus seruan untuk menuntut balas atas darah para syuhada. Pada upacara tersebut, slogan "Kita Harus Bangkit" terpampang bersama ilustrasi kepalan tangan Khamenei dengan latar berwarna merah dan hitam.
Jenazah Khamenei dibawa menggunakan sebuah truk menuju lokasi penghormatan terakhir. Petinya ditempatkan di atas panggung yang lebih tinggi di halaman utama, diselimuti bendera, dikelilingi kaca pelindung, serta dijaga ketat oleh personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi membludaknya warga yang ingin mendekati peti jenazah.
Selama prosesi berlangsung, area pelayat pria dan perempuan dipisahkan menggunakan pembatas sesuai aturan yang berlaku. Sementara itu, lantunan doa, nyanyian keagamaan, dan slogan-slogan revolusi terdengar dari pengeras suara yang dipasang di berbagai titik kompleks.
Rekaman yang disiarkan media pemerintah memperlihatkan massa meneriakkan slogan "Matilah Amerika" dan "Matilah Israel" di sejumlah stasiun metro di Teheran.
Salah seorang pelayat bernama Fatemeh (55) mengatakan dirinya datang bersama rombongan perempuan bercadar hitam untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin mereka.
"Kami datang untuk membalas darah pemimpin kami. Kami akan mengikuti putranya yang akan meneruskan revolusi," ujarnya, merujuk kepada Mojtaba Khamenei.
Pengamanan di ibu kota juga diperketat. Kendaraan lapis baja, senapan mesin berat, hingga penembak jitu disiagakan di sekitar lokasi acara. Setiap pelayat pria menjalani pemeriksaan, sementara sejumlah barang elektronik seperti power bank, earphone, dan korek api disita oleh petugas keamanan sebelum memasuki kompleks.
Mojtaba Khamenei Tidak Hadir
Media pemerintah melaporkan Mojtaba Khamenei tidak menghadiri upacara pemakaman karena alasan keamanan. Meski demikian, sejumlah media yang berafiliasi dengan pemerintah menyebut wafatnya Khamenei justru meningkatkan dukungan masyarakat terhadap Republik Islam Iran.
Pemerintah memperkirakan jumlah pelayat akan sangat besar, bahkan diprediksi mendekati jumlah massa yang menghadiri pemakaman pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, pada 1989.
Ribuan pos pelayanan keagamaan sementara juga didirikan di berbagai wilayah Teheran untuk melayani para pelayat dengan lantunan doa dan pujian.
Prosesi Berlangsung Hingga 9 Juli
Jenazah Khamenei dijadwalkan diarak mengelilingi Teheran pada Senin (6/7/2026). Selanjutnya, iring-iringan akan melewati sejumlah kota suci Syiah seperti Qom, Najaf, dan Karbala sebelum dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, Iran bagian timur laut, pada Kamis (9/7/2026).
Di sisi lain, sebagian warga memanfaatkan libur nasional untuk meninggalkan Teheran menuju kawasan utara yang lebih sejuk di sekitar Laut Kaspia. Akibatnya, arus kendaraan di Jalan Tol Teheran–Shomal mengalami kemacetan panjang selama berjam-jam.
Panglima IRGC Ahmad Vahidi, yang kembali tampil di hadapan publik sejak pecahnya perang, menyampaikan bahwa gugurnya Khamenei merupakan momentum penting bagi perjuangan Republik Islam.
"Musuh harus memahami bahwa darah suci imam kita yang syahid menjadi titik balik baru bagi kemenangan Islam melawan front kafir global," ujarnya kepada televisi pemerintah.
Kepala Divisi Dirgantara IRGC, Majid Mousavi, yang bertanggung jawab atas peluncuran rudal balistik dan drone selama konflik berlangsung, juga terlihat menghadiri rangkaian kegiatan tersebut.
Sementara itu, markas besar angkatan bersenjata Iran mengeluarkan peringatan agar tidak ada aksi militer selama prosesi pemakaman berlangsung. Peringatan tersebut disampaikan setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei menjadi salah satu target yang ingin dibunuh. (Iwan Burhani)
